Pada dini hari Jumat ini, 28 Agustus 2026, Brazil menyaksikan gerhana bulan parsial dalam, dengan 96,2% piringan bulan tertutup oleh umbra Bumi. Fenomena mencapai maksimum sekitar pukul 1:13 pagi (waktu Brasília), saat Bulan Purnama menampilkan warna kemerahan khas. Menurut Observatório Nacional, peristiwa ini terlihat di seluruh wilayah nasional, tanpa perlu peralatan khusus untuk pengamatan. NASA dan Timeanddate mengonfirmasi data tersebut, menyoroti besarnya gerhana. Bagi banyak orang, ini adalah kesempatan unik untuk mengagumi keindahan langit malam.
Gerhana bulan terjadi saat Bumi berada di antara Matahari dan Bulan, melemparkan bayangannya ke satelit alami. Dalam peristiwa ini, 96,2% piringan bulan memasuki wilayah bayangan paling gelap, yaitu umbra, yang mencirikan gerhana parsial dalam. Meski tidak total, bagian yang tertutup cukup untuk menciptakan efek visual mengesankan, dengan Bulan berwarna abu-abu hingga kemerahan. PortalR3 menyoroti bahwa fenomena dimulai sekitar tengah malam dan berlangsung beberapa jam, dengan puncak terjadi di dini hari. Bulan Purnama, yang sudah menjadi tontonan sendiri, menjadi lebih istimewa selama gerhana.

Bagi pengamat Brazil, gerhana ini adalah hadiah dari langit, karena seluruh negara bisa mengikuti fenomena dengan mata telanjang. Berbeda dengan gerhana matahari, tidak ada risiko kerusakan penglihatan, sehingga seluruh keluarga bisa keluar atau melihat melalui jendela. Di beberapa wilayah, langit cerah mendukung pengamatan, sementara yang lain harus menghadapi awan, tetapi peristiwa tetap terlihat sebagian besar. Observatório Nacional merekomendasikan agar yang berminat mencari lokasi dengan polusi cahaya rendah untuk pengalaman lebih baik. Bagi yang melewatkannya, rekaman video dan foto masih tersedia di media sosial untuk dinikmati.
Ini adalah gerhana bulan parsial kedua tahun 2026, dan peristiwa berikutnya dijadwalkan beberapa tahun lagi. Astronom amatir dan profesional memanfaatkan kesempatan untuk mempelajari interaksi antara sinar matahari dan atmosfer Bumi, yang menyebabkan warna kemerahan. Menurut NASA, mengamati gerhana membantu memahami fenomena atmosfer dan mengkalibrasi instrumen. Bagi masyarakat umum, ini meninggalkan kenangan dini hari yang tak terlupakan yang menyatukan sains dan keindahan alam. Mereka yang tidak melihatnya bisa mengikuti peristiwa astronomi mendatang lebih awal, seperti pengumuman dari Observatório Nacional.
Komentar 0
Login to Comment
You need to be logged in to join the discussion
Loading comments...
No comments yet
Login to be the first to comment!